Sabtu, 27 Februari 2010

tugas II individu paedagogi

Menurut Nisbeth, pembaruan pendidikan melewati 4 tahap. Coba kamu pahami keempat prinsip tersebut dengan kata - kata dan bahasamu sendiri. Kemudian beri contoh konkrit yang mengambarkan proses pendidikan yang terjadi pada dirimu sendiri.

4 prinsip pembaruan pendidikan menurut Nisbeth :
  1. The Incres In Workland. Pembaruan pendidikan harusnya telah memikirkan terlebih dahulu permasalahan yang akan muncul pada saat pembaruan sisitem pendidikan. Sehingga permasalahan yang mungkin timbul dapat teratasi dengan baik. Contoh : pada saat perubahan pembaruan suatu sistem pendidikan dari CBSA menjadi berbasis kompetensi harusnya lembaga pendidikan telah memikirkan jawaban atas permasalahan yang mungkin muncul pada saat melakukan perubahan sistem pendidikan tersebut.
  2. Loss Of Confidence. pembaruan sistem pendidikan harusnya telah mempersiapkan keahlian para pengajar dan pendidik agara dapat mengembangkan keahlian dan kemampuannya sehingga tidak hanya berdiam diri yang mungkin akan membuat pendidik merasa kehilangan kepercayaan diri. Contoh : pembaruan sistem pendidikan dari sistem CBSA menjadi berbasis kompetensi harusnya telah mempersiapkan para pendidik dan pengaja yang memiliki kemampuan dan keahlian sehingga pada saat perubahan pembaruan sistem pendidikan para pengajar telah memiliki kemampuan dan keahlian yang cukup untuk mengajarkannya kepada para siswa.
  3. The Period Of Confussion.Masa ini merupakan masa kacau, dimana pada saat proses pembaruan dimulai akan ada masa yang belum terarah dan belum jelas, sehingga harus bisa diatasi. Akan tetapi kekacauan yang terjadi masih didalam batas wajar sehingga masih dapat diatasi. Contoh : pembaruan sistem pendidikan dari CBSA menjadi berbasis kompetensi tentunya membawa suatu perubahan dalam sistem pendidikan sehingga pada saat awal dimulianya pembaruan sistem pendidikan ada masalah yang timbul seperti misalnya pada saat sistem pendidikan CBSA siswa hanya mendengar dan memperhatikan guru berbicara, akan tetapi sistem pendidikan berbasis kompetensi lebih mengaharapkan siswa yang aktif sehingga proses belajar belajar lebih terarah. namun terkadang baik pengajar maupun siswa masih bingung dan belum terarah pada sistem pendidikan yang baru. Sehingga ada masa kacau,namun masih dapat teratasi dengan baik.
  4. The Blacklash. Apabila terdapat suatu masalah pada pembaruan sistem pendidikan harusnya dapat diselesaikan melakui upaya - upaya pemecahan masalah dari sistem pendidikan yang baru yang telah dipikirkan sebelumnya. Contoh : pembaruan sitem pendidikan dari CBSA mengarah pada berbasis kompetensi menimbulkan suatu permasalah baik itu dari pengajar maupun dari siswa itu sendiri. siswa masih banyak yang belum memahami sistem berbasi kompetensi dan terkadang para pengajar pun masih mengajar dengan sistem pendidikan CBSA namun, masalah tersebut dapat diselesaikan memlaui pemecahan masalah yang telah dipikirkan sebelum melakukan pembaruan pada suatu sistem pendidikan


SURI ICHWANI
081301103

Jumat, 26 Februari 2010

tugas2 kelompok V "Empat Tahap Ujian dalam Pembaharuan Pendidikan Menurut Nisbet"

1. The Increase workload(penambahan beban kerja : Dalam setiap pembaharuan sistem pendidikan, pasti ada pertambahan beban kerja, seperti dalam penyelasaian masalah-masalah yang ada pada sistem sebelumnya. Oleh sebab itu sebelum memulai sistem yang baru kita harus memikiran masalah apa yang mungkin akan timbul dan juga memikiran penyelesaian dari masalah tersebut.


contoh : Ada beberapa mata kuliah yang dulunya merupakan mata kuliah wajib sekarang menjadi mata kuliah pilihan dan sebaliknya. Mungkin dalam perubahan ini terdapat beberapa masalah yang mungkin timbul dan penyelesaiannya telah dipikirkan. Dalam hal ini pasti ada pertambahan beban kerja.



2. Lost of Confidence (kehilangan kepercayaan) : Di dalam memperbaiki suatu sistem pendidikan tentu diperlukan skill dan kemampuan dalam melakukannya. Jika hal tersebut tidak dimiliki oleh seorang pengajar tentu ia akan mengalami lost of confidence atau kehilangan kepercayaan diri karena tidak mampu menjalankan sistem.


contoh : ketika seorang dosen mengajar mahasiswa dengan persiapan minim dan kurang menguasai materi mahasiswa cenderung tidak memperhatikan, menganggap remeh dan cenderung menunjukkan kemampuan yang lebih daripada dosennya, sehingga membuat pengajar kehilangan kepercayaan diri, jadi seharusnya pengajar diberi pengembangan dalam mengembangkan kemampuannya.



3. The Period of Confusion (masa kacau) : kekacauan juga dapat terjadi dalam pembaharuan sistem pendidikan,ada saja kendala ataupun masalah yang dapat menghambat pembaharuan, namun masalah-masalah tersebut masih dapat dipertanggung jawabkan dan dapat diatasi.

contoh : Ketika terjadi pembaharuan metode pengumpulan tugas di kelas Paedagogi yang dulunya tugas dikumpulkan kedalam bentuk makalah (menggunakan kertas) sekarang bersifat paper-less dan menggunakan blog sebagai sarana pengumpulan tugas, dan blog juga menjadi sumber informasi mengenai mata kuliah yang ada. Pada awalnya ada beberapa masalah dan kebingungan-kebingungan yang timbul dari mahasiswa terutama bagi mahasiswa yang belum mengenal blog, sehingga beberapa pertemuan digunakan untuk membahas dan memecahkan permasalahan yang ada.


4. The Blacklash : Dalam mengevaluasi suatu sistem pendidikan terkadang timbul masalah-masalah yang dalam penyelasaiannya menggunakan upaya-upaya pembaharuan.

contoh : Masalah yang timbul dalam metode blogging yang diterapkan dalam kelas paedagogi contohnya, ketika ada beberapa mahasiswa yang belum konfirmasi blog kepada dosen pengampuh meskipun sudah melewati batas waktu yang ditentukan, dapat diatasi dengan cara dosen pengampuh tetap membuat tautan dengan catatan mahasiswa yang belum mengirimkan konfirmasi ke email tetap melakukannya


Kelompok V :
Denise Lazzroni 081301036
Husna A. Aritonang 081301046
Gracias Anastasia 081301082
Mayrinda Famella 081301102
Suri Ichwani 081301103
Dita Ardhina 081301110

Kamis, 18 Februari 2010

merakit bintang dan kaitannya dengan proses belajar dalam landasan filosofis,psikologi dan sosiobudaya dalam pendidikan

A. merakit bintang dengan landasan filosofis dalam pendidikan
filsafat berasala dari kata - kata "philos" yang berarti cinta dan "sophia" yang berarti wisdom atau kebijaksanaan. jadi filsafat dapat diartikan secara mendalam terhadapa kebijaksanaan, cinta dan kearifan.berfilsafat merupakan salah satu kegiatan manusia, dimana manusia akan berusaha mencapai kebijaksanaan dan kearifan> berfilsafat adalah berpikir, namun tidak semua berpikir itu berfilsafat . berfilsafat adalah berpikir yang memiliki 3 ciri yaitu :
  • radikal
  • sistematis
  • universal
berpikir radikal adalah berpikir sampai ke akar - akarnya, berpikir sistematis adalah berpikir yang logis dan berpikir universal adalah berpikir secara menyeluruh dan tidak terbatas pada kaitan - kaitan tertentu. kaitan antara berpikir dengan tugas merakit bintang dengan 5 tusuk sate adalah kita harus berpikir untuk dapat menyelesaikan 5 buah tusuk sate agar dapat terakit menjadi bintang dan disini kita harus dapat mengambil langkah kebijaksanaan agar dapat menyelesaikannya menjadi sebuah bintang yang kokh dan kuat. sementara itu kita harus juga berpikir secara logis dan berpikir secara menyeluruh,menggunakan berbagai cara yang tidak terbatas agar 5 tusuj=k sate tersebut dapat menjadi sebuah bintang.

B. merakit bintang dengan landasan psikologis dalam pendidikan
keadaan seorang anak dari yang belum dewasa menjadi dewasa mengalami suatu perubahan karena adanya arahan dan bimbingan dari pendidik yang menjadi suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi.perubahan tersebut merupakan gejala yang timbul secara psikologis sehingga pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada individu.hasil pendidikan yang berupa perubahan tingkah laku meliputi bentuk kemampuan yang menurut taksonomi Bloom diklasifikasikan dengan 3 kemampuan (domain) yaitu :
  • kognitif (cognitive domain )
  • afektif ( affective domain )
  • psikomotor (psychomotor domain )
dalam kaitannya tugas merait bintang dengan 5 buah tusuk sate dengan hal tersebut adalah dimana dalam hal kognitif kita diharapkan memikirkan dan memahami langkah dalam merakit bintang tersebut dan kemudian menerapkanny, dalam hal afektif kita dapat berpartisipasi dalam kegiatan merakit bintang tersebut dan mnerima ide dan masukan dari yang lain, semetra itu dalam hal psikomotor adalah kemampuan dari diri kita masing - masing dalam mnegrjakan dan merakit tusuk sate tersebut agar dapat menjadi sebuah bintang.

C.merakit bintang dengan landasan sosiobudaya dalam pendidikan
manusia sebagai makhluk sosiobudaya juga merupakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain yang telah ada sejak lahir.dalam hal merakit bintang dengan 5 buah tusuk sate ini kita dalam kelompok saling membutuhkan dan memberi pendapat agar pembuatan tusuk sate tersebut dapat terselesaikan dan saling menghargai pendapat antar anggota dalam kelompok sehingga pembuatan tusuk sate dapat terselesaikan dengan adanya kerjasama antar kelompok walaupun ada banyak perbedaan pendapat dari masing - masing anggota kelompok.

suri ichwani 081301103

Rabu, 17 Februari 2010

tugas I kelompok V "BINTANG ALA “TUSUK SATE” DAN “TUSUK GIGI"


Pada hari Kamis, minggu lalu, tepatnya tgl 11 Februari, mahasiswa yang mengambil mata kuliah Paedagogi, yang diampu oleh Bu Dina, diberikan semacam proyek kelompok, yang pada awalnya cukup ambigu dan kurang jelas, karena kami tidak diberi petunjuk apa-apa. Bu Dina menyuruh kami duduk berdasarkan kelompok dan kemudian membagikan 5 tusuk gigi ke masing-masing kelompok. Satu-satunya instruksi yang diberikan Bu Dina adalah: “Coba kalian bentuk bintang menggunakan kelima tusuk gigi itu, dan harus bisa diangkat dengan tangan tanpa ada tusuk gigi yang jatuh”. Tentu saja pada awalnya kami bingung-bingung, dan saling bertatapan. Kami masih belum mengerti maksudnya. Pada percobaan pertama, kami membentuk bintang dengan menyatukan setiap ujung dari tusuk gigi pad satu titik, sehingga terbentuk bintang yang sederhana. Setelah kami tunjukkan pada Ibu Dina ternyata SALAH. Kami memutar otak dan muncul ide lain utuk membentuknya, yaitu dengan membuat lidinya saling menimpa, namun tidak saling mengait. Setelah terbentuk, kami panggil lagi Bu Dina. Bu Dina mengatakan, “mana bisa diangkat itu!”, dan kamipun berpikir, “jadi gimana bu? Mana bisaaaaa..”. Tapi kami tidak menyerah kami terus mengutak-atik tusuk-stusk gigi tersebut, sampai akhirnya “CRAAACKK…”, tusuk gigi kami ada yang patah!! Kami mencoba meminta tambahan tusuk gigi pada Bu Dina, namun tidak diizinkan. Kecewa sih, tapi kami terus berusaha. Tak lama setelah mencoba-coba, Bu Dina kembali mendatangi tiap kelompok dan membagikan 5 tusuk sate yang diatasnya ada semacam hiasan-hiasan terbuat dari kertas karton berbentuk ayam dan ikan, dan semacam kertas scrap berwarna merah (yang belakangan baru kami ketahui bahwa itu ternyata adalah hiasan lampion! Hehehehe) Selanjutnya dengan instruksi yang sama, kami disuruh kembali membuat bintang dengan tusuk sate tersebut. Entah mengapa kelompok kami sepertinya semangat sekali mengerjakannya. Yang tadinya cuma dua orang saja yang memegang tusuk gigi, sekarang kami empat-empatnya memegangi tusuk sate itu dan sama-sama membentuknya. Ukuran tusuk sate yang jauh lebih panjang membuat kami lebih mudah memegangnya dan memutar, membalik, atapun menahan tusuk satenya. Ternyata, hiasan-hiasan pada ujung tusuk sate itupun cukup membantu kami, karena dapat sedikit membantu untuk merekatkan ujung-ujungnya. Pada dasarnya, cara kami merangkai bintang tersebut, sama saja dengan cara kami pada tusuk gigi, hanya saja kami gagal melakukannya dengan tusuk gigi, karena ukurannya yang pendek, sehingga tusuk gignya tidak cukup kuat untuk menahan tekanan tusuk gigi yang lain, dan ada yang sampai patah. Berbeda halnya dengan tusuk sate. Ukurannya yang panjang dan mudah untuk dibengkokkan memudahkan kami untuk menyelip-nyelipkan tusuk sate, ada yang menimpa, dan ada yang ditimpa dan menahan, karena kalau tidak disusun dengan saling menimpa dan menahan, bintangnya akan tidak bisa diangkat. Beberapa kali kami mencoba dan masih gagal, tapi pada akhirnya bintang ala tusuk sate kami terbentuk, dan yang paling penting, bisa diangkat dan tidak jatuh!! Dengan semangat kami memanggil Bu Dina, dan kami ditantang untuk mengangkatnya. Alhasil kami berhasil melakukannya, dan kami cukup bangga karena kami kelompok pertama yang berhasil. Kami merasa sangat senang sekali. Kelompok lain belum ada yang siap menyelesaikan, namun punya kami sudah terbentuk. Mungkin jika dinilai berdasarkan kerapian kerja, ada kelompok lain yang lebih bagus hasil akhirnya, namun kami bangga dengan punya kami, karena kami yang lebih duluan menemukan cara menyatukan tusuk-tusuk sate itu dan membentuknya menjadi bintang. Kami bersinergy dengan cukup baik, dan kami semuanya terlibat dalam mengerjakannya. Ada yang memegang dasarnya, ada yang mengaitkan, pokoknya semuanya bekerja sama. Pada akhirnya entah bagaimana, bintang kami rusak, dan kembali menjadi tusuk sate. Kami mencoba kembali merangkainya, namun ternyata kami kalah oleh waktu. Kelas Paedagogi sudah berakhir, namun Bu Dina memperbolehkan kami membawa tusuk sate itu sebagai kenang-kenangan

kelompok V:

Husna Aritonang (081301046)

Gracias Anastasia Purba (081301082)

Mayrinda Famella (081301102)

Suri Ichwani (081301103)